- Diposting oleh : Ade Irawan
- pada tanggal : Juni 01, 2026

Setiap tanggal 1 Juni, linimasa media sosial dipenuhi ucapan Hari Lahir Pancasila. Foto Garuda dibagikan, kutipan Bung Karno kembali viral, dan berbagai slogan kebangsaan ramai digunakan. Namun setelah peringatan selesai, sering kali semuanya kembali seperti biasa.
Lalu muncul sebuah pertanyaan sederhana:
Pancasila sebenarnya hilang di mana?
Bukan karena teksnya hilang. Kita masih dapat menemukannya di buku pelajaran, ruang kelas, kantor pemerintahan, hingga media digital. Yang mulai sulit ditemukan justru praktik nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, pernah menyoroti bahwa tantangan terbesar bangsa saat ini bukan lagi menghafal Pancasila, melainkan mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.
Generasi yang Hidup di Dalam Algoritma
Gen Z dan Gen Alpha adalah generasi yang tumbuh bersama internet. Informasi datang tanpa henti, tren berubah sangat cepat, dan opini dapat menyebar hanya melalui satu video pendek.
Teknologi memang membuka peluang besar untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi. Namun di sisi lain, algoritma media sosial sering membuat seseorang hanya melihat informasi yang sesuai dengan pandangannya sendiri. Akibatnya, perbedaan pendapat sering dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari kehidupan demokratis.
Padahal sila ketiga Pancasila berbicara tentang persatuan, bukan keseragaman.
Hari ini, banyak orang lebih mudah berdebat di kolom komentar daripada berdialog secara sehat. Kita lebih cepat membagikan informasi daripada memeriksa kebenarannya. Kita ingin didengar, tetapi sering lupa untuk mendengarkan.
Mungkin Pancasila tidak hilang.
Mungkin ia hanya kalah berisik oleh notifikasi.
Ketika Nilai Diganti oleh Viral
Era digital menghadirkan ukuran keberhasilan yang berbeda. Tidak sedikit orang menilai popularitas dari jumlah likes, views, atau followers.
Akibatnya, sebagian orang rela membuat konten provokatif, menyebarkan informasi yang belum tentu benar, bahkan merendahkan orang lain demi mendapatkan perhatian publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai moral sering kali dikalahkan oleh keinginan untuk menjadi viral.
Padahal sila kedua berbunyi: “Kemanusiaan yang adil dan beradab.”
Nilai tersebut mengajarkan bahwa setiap orang berhak dihormati sebagai manusia.
Jika sebuah konten membuat orang lain dipermalukan demi hiburan, apakah itu masih mencerminkan nilai kemanusiaan?
Pertanyaan seperti ini perlu lebih sering dibahas oleh generasi muda dibanding sekadar mengikuti tren yang datang dan pergi.
Pancasila Tidak Butuh Konten, Tetapi Keteladanan
Masalah terbesar bangsa ini bukan kurangnya slogan tentang Pancasila. Yang menjadi persoalan adalah ketika praktik kehidupan berbangsa masih diwarnai oleh korupsi, ketimpangan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, dan rendahnya keteladanan publik.
Akibatnya, sebagian anak muda mulai bersikap sinis.
Mereka melihat banyak orang berbicara tentang persatuan tetapi gemar memecah belah. Berbicara tentang kejujuran tetapi memberi contoh yang berbeda. Berbicara tentang keadilan tetapi masih mempertontonkan ketidakadilan.
Di sinilah tantangan terbesar muncul.
Bagaimana generasi muda dapat tetap percaya pada nilai-nilai Pancasila jika praktiknya sering tidak terlihat?
Jawabannya mungkin bukan dengan ceramah yang lebih panjang, melainkan dengan keteladanan yang lebih nyata.
Menjadikan Pancasila Sebagai Lifestyle
Banyak pelajar menganggap Pancasila hanya sebatas materi pelajaran sekolah. Padahal nilai-nilainya dapat diterapkan dalam aktivitas yang sangat sederhana.
Menghargai teman yang berbeda agama adalah Pancasila.
Tidak menyebarkan hoaks adalah Pancasila. Membantu teman yang mengalami kesulitan tanpa membedakan latar belakang adalah Pancasila. Berani jujur saat ujian juga merupakan Pancasila. Menggunakan media sosial secara bijak pun menjadi bentuk pengamalan Pancasila di era digital. Karena pada akhirnya, Pancasila bukan hanya ideologi negara. Pancasila adalah cara hidup.
Penutup
Jika hari ini ada yang bertanya, “Pancasila hilang di mana?”, mungkin jawabannya bukan berada di gedung pemerintahan, bukan di sekolah, dan bukan pula di buku-buku pelajaran.
Pancasila hilang setiap kali kita memilih ego dibanding gotong royong.
Pancasila hilang setiap kali kebencian lebih mudah disebarkan daripada kebaikan.
Pancasila hilang setiap kali kejujuran dianggap sebagai kelemahan.
Namun kabar baiknya, Pancasila juga dapat ditemukan kembali.
Bukan melalui pidato yang megah, melainkan melalui tindakan kecil yang dilakukan setiap hari oleh generasi muda Indonesia.
Karena masa depan Pancasila bukan berada pada teks yang kita hafal, melainkan pada karakter yang kita bangun bersama. 🇮🇩✨