- Diposting oleh : Ade Irawan
- pada tanggal : Oktober 27, 2026
Dunia pendidikan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan menghafal. Di tengah perkembangan informasi dan teknologi yang semakin pesat, peserta didik juga perlu mampu memahami informasi, berpikir kritis, menggunakan pengetahuan, dan menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu kerangka asesmen yang dirancang untuk mengukur kompetensi tersebut adalah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Memahami AKM menjadi langkah penting bagi guru, orang tua, dan masyarakat agar dapat melihat pembelajaran dari sudut pandang yang lebih luas.
Apa Itu Asesmen Kompetensi Minimum?
Asesmen Kompetensi Minimum atau AKM merupakan bagian dari kerangka Asesmen Nasional yang berfokus pada pengukuran kompetensi mendasar peserta didik, yaitu literasi membaca dan numerasi.
Kedua kompetensi tersebut dipandang penting karena menjadi fondasi untuk belajar sepanjang hayat, memahami berbagai bidang ilmu, serta berpartisipasi secara produktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Literasi membaca bukan sekadar kemampuan melafalkan tulisan. Peserta didik perlu memahami makna bacaan, menemukan informasi penting, menarik kesimpulan, serta menilai informasi secara kritis.
Sementara itu, numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melakukan operasi hitung. Numerasi juga mencakup kemampuan menggunakan konsep matematika untuk memahami informasi kuantitatif dan menyelesaikan masalah dalam berbagai situasi nyata.
Dengan demikian, AKM mendorong perhatian pada kemampuan menggunakan pengetahuan, bukan hanya mengingat materi yang telah dipelajari.
AKM dalam Kerangka Asesmen Nasional
Dalam dokumen Framework Asesmen Kompetensi Minimum, edisi revisi 2023, Asesmen Nasional dijelaskan sebagai evaluasi untuk memperoleh informasi mengenai mutu pendidikan.
Kerangka Asesmen Nasional mencakup tiga komponen utama:
Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), yang mengukur literasi membaca dan numerasi.
Survei Karakter, yang memberikan gambaran mengenai karakteristik peserta didik.
Survei Lingkungan Belajar, yang mengumpulkan informasi mengenai kondisi dan proses pembelajaran di satuan pendidikan.
Informasi dari Asesmen Nasional diharapkan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan mutu pendidikan. Oleh karena itu, hasil asesmen perlu dipahami dalam konteks peningkatan kualitas pembelajaran, bukan sekadar sebagai angka atau peringkat.
Tiga Komponen Penting dalam AKM
Soal AKM dirancang dengan memperhatikan tiga komponen, yaitu konten, tingkat kognitif, dan konteks.
1. Konten
Pada literasi membaca, konten dibedakan menjadi teks informasi dan teks fiksi.
Teks informasi menyajikan fakta, data, atau pengetahuan yang dapat digunakan untuk memperluas wawasan. Sementara itu, teks fiksi menyajikan cerita imajinatif yang dapat membantu pembaca memahami tokoh, peristiwa, konflik, dan persoalan kehidupan.
Pada numerasi, konten mencakup empat domain, yaitu bilangan, geometri dan pengukuran, aljabar, serta data dan ketidakpastian.
2. Tingkat kognitif
Tingkat kognitif menunjukkan proses berpikir yang diperlukan untuk menjawab soal.
Dalam literasi membaca, peserta didik dituntut mampu menemukan informasi, menginterpretasi dan mengintegrasikan informasi, serta mengevaluasi dan merefleksi isi bacaan.
Dalam numerasi, proses berpikir mencakup knowing atau pengetahuan dan pemahaman, applying atau penerapan, serta reasoning atau penalaran.
3. Konteks
Soal AKM menggunakan konteks personal, sosial-budaya, dan saintifik. Konteks ini menghubungkan kompetensi yang diukur dengan kehidupan pribadi, masyarakat, serta fenomena ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perpaduan ketiga komponen tersebut membuat soal AKM tidak hanya berorientasi pada satu materi atau bentuk pertanyaan.
Mengapa Bentuk Soal AKM Beragam?
AKM menggunakan beragam bentuk soal untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menunjukkan kompetensinya melalui cara yang berbeda.
Bentuk soal tersebut meliputi:
Pilihan ganda.
Pilihan ganda kompleks.
Menjodohkan.
Isian atau jawaban singkat.
Uraian.
Pada soal pilihan ganda kompleks, misalnya, peserta didik dapat diminta menentukan benar atau salahnya beberapa pernyataan. Pada soal uraian, peserta didik perlu mengorganisasikan gagasan dan menyampaikan jawaban berdasarkan pemahamannya.
Keragaman bentuk soal tersebut sejalan dengan tujuan mengukur kemampuan berpikir, memahami informasi, dan menyelesaikan masalah.
Apa Artinya bagi Pembelajaran di Sekolah?
Kerangka AKM memberikan gambaran bahwa pembelajaran perlu menyediakan kesempatan bagi peserta didik untuk membaca beragam teks, berdiskusi, menafsirkan data, mengajukan pertanyaan, serta menyelesaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Guru dapat mengembangkan kegiatan belajar yang tidak berhenti pada pertanyaan “Apa jawabannya?”, tetapi juga “Bagaimana kamu mengetahui jawaban itu?”, “Informasi apa yang mendukungnya?”, dan “Bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan?”
Pendekatan ini membantu peserta didik mengembangkan kebiasaan berpikir dan menggunakan pengetahuan secara lebih bermakna.
Penutup
AKM merupakan salah satu bagian penting dalam upaya memahami kompetensi mendasar peserta didik. Literasi membaca dan numerasi menjadi fondasi agar peserta didik mampu belajar sepanjang hayat dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi berbagai situasi.
Namun, memahami AKM secara utuh tidak cukup hanya dengan mengetahui pengertian dan bentuk soalnya. Kita juga perlu memahami bagaimana kemampuan literasi membaca dikembangkan, mulai dari menemukan informasi sederhana hingga menilai dan merefleksikan isi bacaan secara kritis.
Pada artikel berikutnya, kita akan membahas lebih dalam tentang literasi membaca dalam AKM, termasuk jenis teks, konteks bacaan, dan tiga tingkat kemampuan berpikir yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran.
Sumber: Framework Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), edisi revisi 2023, Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek.
